Kehadiran Dan Perpisahan

Pada tanggal 09 september 1982,tepatnya hari kamis pon lahirlah si jabang bayi,buah hati pasangan Bpk Hadi pawarso dan Ibu Dasimah.kelahiran itu merupakan kelahiran anaknya yang ke tiga kalinya,anak yang pertamanya laki laki,yang ke duanya perempuan,laaah yang ke tiga kalinya laki laki lagi.

Mengikuti adat istiadat setelah usianya 7 hari si jabang bayi di beri nama,keluarga Bpk Hadi pawarso dan Ibu Dasimah sepakat memberi nama anak ketiganya yang bernama….DARIMAN.Sejak malam itulah si jabang bayi di panggil dariman dan seterusnya sampai besar kelak,

Malam itu suasana rumah Bpk Hadi Pawarso ramai sekali,saudara famili kunjung berdatangan silih beranti,hingga menjelang pagi sanak famili masih berkumpul di rumah Bpk Hadi Pawarso.

Anak sulung Bpk Hadi Pawarso bernama Dasikin,dan anak keduanya yang permpuan bernama saikem.kini dia punya adik kecil yang mungil,senang sekali perasaan mereka dengan kehadiran adik barunya,setiap hari mereka secara bergantian mengasuh adiknya.

Hari demi hari terus melaju,seiring waktu berjalan mengikuti jaman,hingga akhirnya Dariman tumbuh besar dan mengenal satu sama lain,Dariman mulai mengenal Bpk,Ibu,Kedua kakaknya dan Orang orang terdekatnya.

Semakin besar dan besar hingga akhirnya Dariman berumur 1 tahun,di umur 1 tahu Dariman sudah sering di tinggal Bpk dan Ibunya bekerja di sawah,Ibu Dasimah sering mendapat job kerja di sawah tetangga tetangganya,mungkin itu adalah profesi Bpk Hadi Pawarso dan Ibu Dasimah sebagai pekerja buruh sawah.tidak jarang juga tetangga tetangganya yang berprofesi sama seperti keluarga Bpk Hadi Pawarso,kesibukan keluarga Bpk Hadi Pawarso tiap harinya seprti itu.

Hingga pada akhirnya Darimanpun bertambah umur,setelah Dariman berumur 3 tahun,keluarga Bpk Hadi Pawarso mendapat musibah,pada saat itu kakak perempuan Dariman(Saikem) meninggal dunia karena sakit.tadinya kakaknya cuma sakit tipus,mungkin keluarga Bpk Hadi Pawarso tidak punya dana untuk berobat anaknya,hingga pada akhirnya anaknyapun meninggal dunia.

Semenjak meninggalnya anak kedua dari keluarga Bpk Hadi Pawarso,keluarga Bpk Hadi Pawarso bertekat mengadu nasib beranjak ke kota Bandung.

Bpk Hadi Pawarso beranjak ke Bandung meninggalkan anak sulungnya (Dasikin),anak sulungnya di tinggal di kampung halamannya ikut bersama Mbahnya,Mbahnya bernama Mangun Jaya.

Nama Mangun Jaya di Desanya lumayan terkenal,siapa sih yang tidak kenal Mbah Mangun Jaya…………….

Di tempat mbahnya Dasikin di sekolahkan,di samping sekolah Dasikinpun harus membantu pekerjaan mbahnya,tiap pagi Dasikin harus ngasih makan ayam ayam mbahnya,sepulang sekolah Dasikin harus nyuci piring dan sebagainya yang layak di kerjakan oleh anak seumuran Dasikin.

Pertamanya Dasikin sekolah di SD Negri Jladri I,setelah ikut mbahnya Dasikin pindah sekolah di SD Negri Adiwarno,hingga pada akhirnya Dasikinpun mengakhiri sekolahnya di SD Negri Adiwarno denagan hasil kelulusan yang sangat memuaskan hatinya.

Setelah lulus sekolah SD Dasikin berniat melanjutkan sekolah ke SMP Negri I Buayan,seperti apa yang di janjikan mbahnya dulu,tapi apa yang terjadi pada kenyataannya …….?

Dulu mbanya pernah bilang kalo lulus nanti Dasikin akan di sekolahkan lagi ke SMP Negri I Buayan,tapi kenyataannya tidak sepeti itu,mau ga mau Dasikinpun harus nyusul kedua orang tuanya ke Bandung.

Dasikin berfikir,bagai mana caranya bisa nyusul Bapak dan Ibunya ke Bandung,hari demi hari terus berfikir,hingga pada akhirnya ada seorng Bapak setengah baya yang sangat baik sekal,hingga akhirnya Dasikinpun di ajaknya ke Bandung bersamanya.

Pagi harinya Dasikin semangat bergegas mengemasi semua pakaian dan barang barang miliknya,setelah selesai mengemasi barang barang Dasikinpun pamit pada mbah,sodara sodaranya dan teman temannya.Hari pun menjelang siang,Dasikin dan orang setengah baya itu beranjak pergi meninggalkan kampung halamannya.

Dalam perjalanannya ke Bandung,hati Dasikin di penuhi prasaan riang dan gembira,dia membayangkan bagaimana bertemu dengan keluarganya ,setelah beberapa tahun Dasikin tidak bertemu dengan kelarganya,mungkin ada 2 tahun lebih Dasikin tidak berkumpul keluarga.

Setelah sesampainya di Bandung,keluarga Bpk Hadi Pawarso merasa kaget sekali melihat anak sulungnya yang tinggal bersama mbahnya tiba di Bandung,terharu sekali keluarga Bpk Hadi Pawarso setelah bertemu dengan anak sulungnya,dengan perasaan yang tidak karuan dan keharuan Ibu Dasimah meneteskan air mata,air mata yang menunjukan rasa kasih sayangnya pada anaknya dan rasa kebersalahannya karena meninggalkan anak sulungnya di kampung ikut mbahnya.

Dengan perasaan terharu keluarga Bpk Hadi Pawarso mengucapkan terimakasih kepada orang setengah baya itu,dan terus dilanjutkan ngobrol bersama keluarga dan anak sulungnya yang baru saja tiba di Bandun.

Setelah lama ngobrol kesana kemari malampun tiba,…..Ibu Dasimah bergegas menyiapkan makan untuk makan malamnya,keluarga Bpk Hadi Pawarso dan orang setengah baya yang mengajak Dasikin ke Bandung akhirnyapun makan bersama di tempat kontrakan Bpk Hadi Pawarso yang kecil dan sedikit sempit,setelah makan malam selesai dan melanjutkan ngobrol,orang setengah baya itu akhirnya pamit pulang,memang keadaanpun sudah terlarut malam.

Dasikin melihat adiknya sudah tertidur nyenyak,Malam yang penuh kasih sayangpun di rasakan oleh Dasikin,sekian lama sekian tahun Dasikin tidak mendapatkan kasih sayang orang tua.

Hening terasa kontrakan Bpk Hadi Pawrso,seluruh keluarga sudah tertidur nyenyak,dengan keadaan yang bersempit sempitan,merekapun merasa nyaman dan tenang,penuh dengan rasa kasih sayang dan kehangatan keluarga walaupun dengan keadaan seperti itu.

Hingga akhirnya pagipun tiba…….ayam bekokok menandakan hari sudah menjelang siang,Ibu Dasimah bangun lebih awal ketimbang anak dan suaminya,dia beranjak ke warung terdekat di sebelah kontrakannya,wajarlah………… tugas seorang ibu harus menyiapkan makanan untuk sarapan keluarganya,setelah pulang dari warung anak sulungnya sudah bangun sedang menikmati pagi hari di kota Bandung,baru pertama kali Dasikin menikmati udara pagi hari di kota bandung,di susul Bpk juga bangun,sedangkan si bungsu masih tertidur nyenyak.

Dua gelas teh manispun di sediakan oleh Ibu Dasimah,satu untuk bapak dan yang satu untuk anak sulungnya,pagi itu masih ngobrol antara anak dengan bapaknya,bapak bertanya tanya tentang keadaan keluarga di kampung dan sebagainya………….hingga akhirnya si bungsupun bangun dari tidurnya.

Jam menunjukan pukul 07.30 WIB,Ibu Dasimah yang sudah menyiapkan makanan untuk sarapan,sarapanpun di mulai,setelah selesai sarapan seperti biasa Bpk Hadi Pawarsopun bergegas berangkat kerja,begitu juga Ibu Dasimah.

Hari itu dirasakan berbeda oleh Dariman,yang biasanya Dariman ikut bersama ibunya,sekarang sudah tidak lagi,dengan kedatangan kakak sulungnya dariman sekarang mending milih di rumah menghabiskan hari harinya bersama kakaknya,senang,riang,penuh canda tawa yang di rasakan Dariman.

Setelah beberapa hari di Bandun, ada yang mengajak kerja Dasikin,Dasikinpun ijin pada kedua orang tuanya untuk bekerja,ya…………..pada awalnya sih tidak boleh,di samping dasikin yang masih kecil,dia juga masih perlu sekolah,tapi dasikin tetap menginginkan bekerja,dengan alasan untuk membantu orang tua.akhirnyapun Bpk dan ibunya kalah dan akhirnya Dasikin bekerja di toko sepatu.

Sekian lama seiring waktu berjalan Darimanpun bertambah besar dan harus sekolah,Dariman di daftarkan sekolah di sebuah sekolah sewasta di daerah Bandung juga,sekolahan dariman tidak jauh dari rumah kontrkannya,setiap berangkat sekolah Dariman di anter Dasikin,memang kebetulan karena arah tujuannya sama jadi sekalian bareng berangkatnya.kecuali kalo Dariman pas masuk siang,di kota kan kadang sekolahnya pagi kadang siang,kalo siang Dariman dianter sama bapaknya.

Sampai pada suatu saat ada sodara yang datang dari kampung mau bekerja di Bandung,dia anak bu de’ (anaknya kakak ibu) dia baru tamat SD,ya…………di jaman seperti itu,tamat SD aja susah apa lagi mau nerusin sekolah ke SMP,kadang kebutuhan sehari hari saja kurang,boro boro buat nyekolahin anaknya……dia tidak langsung bekerja,dia membantu ibu Dasimah mengurusi Dariman di rumah,hingga pada waktu itu bosnya Ibu Dasimah nyari pembantu baru untuk ngasuh anaknya,diajaklah langsung keponakannya itu menuju tempat bosnya dan akhirnya dia kekerja di situ.

Sekarang dariman tidak lagi ada yang mengantar sekolah dan menjeputnya,Bpk Hadi Pawarso dan Ibu Dasimah muai kerepotan,hingga akhirnya muncul pikiran akan membawa pulang kampung Dariman untuk sekolah di kampung di tempat mbahny,tapi bukan di tempat mbah mangun,Dariman akan di tempatkan di tempatnya mbah SANDON.

Mbah sandon itu Ibunya Ibu Dasimah,akhirnya Darimanpun mau di tawarin sekolah di kampung,sebenarnya kakaknya tidak setuju kalo Dariman di sekolahkan di kampung,tapi melihat keadaan yang tidak memungkinkan daripada di Bandung dariman tidak ada yang njaga ya gimana lagi.

Setelah bermusyawarah keluarga,taklama kemudian Bpk Hadi Pawarso mendatangi sekolahan diamana Dariman sekolah untuk mengurus surat pindah sekolahnya Dariman,setelah beberapa hari surat surat itupun di berikan Dariman.selang dua hari Bapak Hadi Pawarso mengajak Dariman pulang kampung bersama ibunya.

Sesampainya di kampung,mbah sandonpun menyambut kedatangan anak,menantu dan cucu kesayangannya,dulu waktu Dariman masih kecil di kampung Dariman adalah cucu kesayangan mbah sandon,setelah datang cucu kesayangannya betapa riangnya hati mbah sandon.

Setelah beberapa hari Bpk Hadi Paqarso tinggal di kampung dan mendaftarkan sekolah Dariman,dan akhirnya dariman di sekolahkan di SD Jladri I,setelah keprluan dan kebutuhan Dariman sudah di cukupi, akhirnya Bpk Hadi Pawarsopun dan Ibu Dasimah beranjak pergi meninggalkan kampung halaman dan anak bungsunya.

Selamat belajar nak…..

jangan nakal……..

Dengan kata kata yang hampir tidak dapat terucap dari bibir seorang ayah dan ibu. dengan rasa berat hati meninggalkan anaknya .

selamat tinggal nak…………..……………..

Tinggalkan Balasan