Dariman Kelas VI
Setelah beberapa tahun dariman belajar di SD Negri Jladri I,akhirnya dariman menginjak detik-detik terakhir di sekolahan itu. Di kelas VI dariman lebih serius dan lebih giat lagi dalam belajar,setiap harinya dariman selalu belajar,entah itu belajar sendiri ataupun secara kelompok. Dalam mengembala kambingpun dariman selalu belajar bersama teman temannya,dulu sering ada kegiatan belajar kelompok,sekarang kayaknya tidak ada kegiatan semacam itu.
Demi mempertahankan prestasinya,dariman selalu belajar dan belajar. Di tengah perjalanan belajarnya,ternyata dariman juga harus membantu Ibunya,yaaaah….dariman harus membantu Ibunya,karena Bapaknya dariman jatuh sakit. Sebenarnya Bapaknya dariman sakit sudah lama sih,kalau tidak salah semenjak dariman duduk di bangku kelas IV,tapi karena cuma sakit batuk,jadi,dianggap biasa oleh Bapaknya dariman,dan lambat tahun akhirnya batuknya menjadi,dan akhirnya bertambah parah. Setelah ± 3 tahun dan dariman kelas VI,akhirnya Bapaknya dariman tidak bisa menahan rasa sakit,sakit yang selama ini di deritanya. Kalau tidak salah pada hari senin pukul 10.20 WIB Bapaknya dariman akhirnya menghembuskan nafas yang terkhir di rumahnya,waktu itu dariman masih di sekolahan,dan sekitar pukul 11.30 WIB,dariman di jemput oleh Bapak Wasimin disuruh pulang,katanya Bapaknya meninggal Dunia dan dariman harus pulang.
Sesampai di rumah,dariman masih kelihatan tabah dan biasa-biasa saja,di wajah dariman tidak tampak rasa sedih,sepertinya dariman tabah menerima kenyataan seperti itu,begitu juga Ibunya dariman. Bukannya Ibunya dariman dan dariman sendiri tidak sayang pada Bpaknya,tapi tidak tau keluarga itu kelihatannya tabah menerima kenyataan itu. Waktu itu Kakaknya dariman “Dasikin”,masih berada di Bandung,dan lagi-lagi Bapak Wasimin yang ngasih kabar ke Dasikin,dan malamnya dasikinpun pulang sampai di rumah. Melihat keadaan seperti itu,malah dasikin yang seolah-olah tidak bisa menerima keadaan,dasikin menangis,dasikin menyesal karena tidak ikut dalam pemakaman Bapaknya.
Pada waktu itu,pemakaman Bapaknya dariman pas kebetulan bersamaan dengan pemakaman Ibu Tien Soeharto,jadi kenangan itu selalu di ingat,karena pas kebetulan pemakamanya bersamaan dengan Istri Presiden RI, jadi ikut di kenang,he he he he …….. Mungkin pada waktu di rumah dariman tidak kelihatan sedih,tapi malah ketika ke esokan harinya,dariman malah menangis di kelasnya,ketika Ibu Guru mengucap kalau Bapaknya dariman sudah tiada” meninggal”.
Kejadian itu menjadi beban pikiran bagi dariman,pada waktu itu dariman pas mau menghadapi UAN (Ujian Akhir Sekolah),baru selesai pelatihan UAN,dariman kehilangan seorang Bapak,selang beberapa minggu lagi dariman harus mengikuti UAN yang sesungguhnya. Sungguh menjadi beban mental bagi dariman,tapi dariman masih saja kelihatan semangat,dariman seolah-olah tidak ada pikiran sedih,”tapi sebenarnya rasa di tinggal Bapaknya masih ada dalam hati”,tapi dariman tetap kalihatan ceria.
Di akhir sekolah,ternyata mau tidak mau darimanpun harus menerima hasil UAN nya yang hasilnya di bawah teman-temannya,yaaaah……..dariman mendapat peringkat 3 (tiga) dari teman sekelasnya. Ternyata dengan meninggalnya Bapaknya,berpengaruh juga dampaknya pada diri dariman,darimanpun harus bisa menerima kenyataan itu,begitu juga Ibunya dariman,Ibunya darimanpun harus menerima keadaan itu,mau tidak mau,……harus mau…….he he he he he he …………….
Setelah pengumuman dan pengambilan Ijzah,darimanpun bingung mau nerusin sekolah dimana?, waktu itu Ibu Guru Sumiati mengadakan kegiatan”,mendaftar bareng ke SLTP PGRI 9 Buayan”,di situ dariman bersama temen-temen ikut Ibu Guru Sumiati mendaftar bareng di SLTP PGRI 9 Buayan.
Setelah ikut mendaftar,ada cerita apa lagi yah dalam kehidupan dariman………………………? ikuti aja kisah selanjutnya.he he he he he he he ……………
DIarsipkan di bawah: SEKOLAH