Sebuah kisah yang paling terkesan ketika dariman sekolah kelas II di SMP PGRI 9 Buayan,Pada saat itu dariman merasakan bagai mana di benci teman satu kelas.
Kisah ini berawal dari sifat egois yang tinggi,dariman berpendirian bahwa dirinya merasa benar,begitu juga Pak Guru Parimin ¨Guru bahasa Indonesia ¨,permasalahan ini berawal ketika Pak Parimin menerangkan pelajaran Bahasa Indonesia dan dariman becandda sendiri dengan teman sebangkunya,Pak Parimin merasa jengkel dengan sikap dariman dan Pak Parimin menyuruh dariman menggantikan posisi Pak Parimin,dariman disuruh menerangkan pelajaran Bahasa Indonesia di depan kepada teman-temannya,tetapi dariman tidak mau maju kedepan untuk menggantikan Pak Parimin menerangkan pelajaran Bahasa Indonesia.
Dengan sikap dariman,Pak Parimin merasa tidak suka dan Pak Parimin memberi pilihan kepada dariman,pilihannya itu adalah,¨Lebih baik kamu maju kedepan mewakili saya,apa saya keluar dari kelas ini dan tidak akan ngajar di kelas ini lagi.¨,tutur Pak Parimin dengan muka jengkel. Tapi dariman tidak menuruti permintaan Pak Parimin,karena dariman tetap pada pendiriannya ¨ Saya kan murid bukan Guru,yang jadi Guru kan Pak Parimin.¨,bisik dariman pada teman sebangkunya.
Setelah dariman tidak mau menuruti permintaan Pak Parimin,Pak Parimin dengan perasaan jengkel langsung keluar dari kelas,suasana kelas menjadi ramai,semua teman teman dariman bingung dengan sikap Pak Parimin. Sebagian teman-teman ada yang merasa senang Pak Parimin keluar dari kelas ¨ Bagi anak yang tidak suka pelajaran Bahasa Indonesia.¨,di sisi lain juga ada yang menyalahkan dariman karena dariman tidak memperhatikan pelajaran yang sedang di terangkan oleh Pak Parimin.
Hingga beberapa kali ada mata pelajaran Bahasa Indonesia,Pak Parimin tetap tidak mau mengajar di kelasnya dariman,sebelum dariman minta maaf ke pada Pak Parimin,tapi darimanpun tetap bersih keras pada pendiriannya,dariman tidak mau minta maaf kepada Pak Parimin,sampai-sampai kasus ini terdengar oleh Kepala Sekolah. Pak Saijan sebagai Wali kelasnya dariman merasa malu kepada Pak Kepala Sekolah,dan Pak Saijan membujuk dariman supaya mohon maaf kepada Pak Parimin,tapi darimanpun masih belum mau minta maaf kepada Pak Parimin.
Hari terus berjalan,dariman dan teman sekelasnya tidak pernah mendapat pelajaran Bahasa Indonesia,hingga pada akhirnya dariman di benci semua teman sekelasnya,teman sekelas dariman tidak ada yang mau berteman denga dariman,teman-teman dariman merasa di rugikan disebabkan oleh dariman,semua teman jengkel dan marah. Dariman bingung dengan sikap teman-temannya yang selalu menyalahkan dirinya,dariman sering termenung sendiri semenjak kejadian itu,karena dariman sudah tidak punya teman lagi di kelasnya. Pak Parimin hampir satu bulan tidak mengajar di kelasnya dariman.
Semakin terdesak dariman dan harus minta maaf kepada Pak Parimin,jumát pagi-pagi sekali dariman masuk keruang Guru dan menunggu Pak Parimin datang,kebetulan pagi itu Pak Parimin datang ke sekolah agak siang tidak seperti biasa yang biasanya datangnya lebih awal dari Guru-guru yang lainnya. Setelah Pak Parimin datang,dariman sudah duduk di depan meja Pak Parimin. Pagi itu dariman minta maaf kepada Pak Parimin,Pak Pariminpun memaafkan dariman dan Pak Parimin juga mengakui kesalahannya,karena menyuruh murid untuk menggantikan gurunya menerangkan di depan kepada teman-temannya.
Setelah dariman minta maaf kepada Pak Parimin,Pak Pariminpun sudah mulai lagi mengajar di kelasnya dariman. Teman-teman dariman mulai mau berteman lagi,yang tadinya dariman harus sendiri kini dariman sudah bisa becanda ria bersama teman-teman sekelasnya.
Pak Saijan juga mengucapkan terima kasih kepada dariman karena dariman sudah mau minta maaf kepada Pak Parimin dan akhirnya Pak Parimin sudah mau mengajar lagi,sungguh luar biasa di rasakan dariman,baru kali ini dariman merasakan betapa sedihnya di benci teman sekelas,betapa sedihnya dariman tidak punya teman. Mungkin ini pengalaman yang paling mengesankan sewaktu dariman di SMP PGRI 9 Buayan.
DIarsipkan di bawah: Kenanga